Foto-foto Anggota koperasi Ehaoni

Ketua Dewan Pembina, Ketua, dan Anggota

Foto-foto Anggota Koperasi Ehaoni

Ibu-ibu yang cantik-cantik

Foto-foto Anggota Koperasi Ehaoni

Bapak-bapak yang ganteng dan smart

Foto-foto Anggota Koperasi Ehaoni

Bapak dan ibu Anggota koperasi yang murah senyum

YA'AHOWU FEFU

Dari Kita, Oleh Kita dan Untuk Kita

Senin, 25 April 2016

MALAIKAT KECIL YANG TAK PERNAH DIPERHITUNGKAN MANUSIA


Sudah menjadi kebiasaan rutin dan hampir dua bulan sekali, sebuah Gereja Kharismatik di Jakarta mengadakan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR). Seminggu sebelum pelaksanaan KKR, pihak gereja pun sudah disibukkan dengan berbagai persiapan termasuk kegiatan membagi-bagikan brosur di berbagai tempat untuk mengajak setiap orang menghadiri acara tersebut. yach, memang itulah salah satu  dari tugas panggilan Gereja

Siang itu, persisnya di parkiran gereja tadi, seorang bocah kecil  berumur sekitar10 tahun sedang berteduh menunggu hujan reda sambil menjinjing sebuah karung usang. badannya yang mungil terlihat basah kuyup, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Kali ini, suasananya sangat dingin ditambah dengan tiupan angin kencang yang membuat siapapun malas untuk keluar rumah. Namun bocah ini seakan tak pernah memperdulikannya. Perjuangan hidup, itulah yang menuntutnya untuk harus keluar rumah demi mencari botol-botol plastik bekas lalu dijual ke pengumpul. Potret seperti ini, memang bukan hal yang baru di kota besar seperti Jakarata. Setiap orang yang melihatnya pun sudah tidak merasa aneh lagi, karena sudah menjadi pemandangan sehari-hari.

"Sudah lama disitu, Nak?" kata seorang lelaki paruh baya, yang berdiri di depan pintu kantor sekretariat gereja. Memang, sejak dari tadi laki-laki ini terus memperhatikannya dari dalam. Laki-laki ini adalah seorang Pendeta yang melayani di gereja tersebut. Seketika bocah ini menoleh ke arah sumber suara yang menyapanya.

"nggak Pak Pendeta" jawabnya singkat sambil tersenyum. Bocah ini, memang tau kalau laki-laki yang menyapanya adalah seorang Pendeta karena hampir setiap hari minggu selalu bertemu dengan beliau dan terkadang di kasih makan sama pak Pendeta kalau lagi mengumpulkan botol-botol plastik Bekas di sekitar halaman Gereja.

"ayo masuk kedalam, diluar sangat dingin"
"tak uasah pak, saya disini aja. Baju saya kotor, dan basah"
"gak apa-apa, Nak. di dalam nunggunya sambil kita minum Teh"
"tapi, pak ..."
"sudah, tak usah dipikirkan, ayo masuk ke dalam"

dengan sedikit agak sungkan, akhirnya bocah ini pun masuk ke dalam mengikuti ajakan Pak Pendeta. Di dalam pun terjadi pembicaraan hangat antara bocah ini dengan si Pendeta. Sesekali terdengar tawa sang anak lalu kemudian melemparkan senyum khasnya ke pak pendeta. Kehangatan pembicaraan keduanya pun mengalir begitu saja. setelah hujan mulai reda, Bocah ini pun pamit melanjutkan rutinitasnya yang sempat tertunda satu jam lebih.

"Nanti hari minggu jangan lupa datang ke KKR ya, Nak, ajak teman-temannya. Brosur yang tadi bapak kasikan di bagikan juga sekalian"
"Siap, Pak"
“Siap untuk apa nak?” tanya pak pendeta sambil tersenyum
“Siap datang hari minggu dan bantu bapak membagikan Brosur ini.”
“Tapi jangan hari ini, udara di luar sangat dingin, apalagi gerimis.”
“Pak, itu gak apa-apa kok, lagian saya udah biasa Pak.
Sang Pendeta pun diam sejenak lalu berkata
“Baiklah, tapi bagi beberapa brosur saja, jangan banyak-banyak.”
Bocah itu pun keluar di jalanan kota melanjutkan memungut botol-botol bekas sambil membagi brosur kepada orang yang dijumpainya, juga dari pintu ke pintu.
Setelah dua jam berjalan, dan brosur hanya tersisa sedikit saja. Jalanan sepi dan ia tak menjumpai lagi orangg di jalanan, kecuali kendaraan yang terus lalu lalang. Botol yang dikumpulkannya pun tak terasa sudah lumayan banyak. Lalu ia mendatangi sebuah rumah untuk membagikan brosur itu. Ia pencet tombol bel rumah….tapi tak ada yang menjawab. Ia pencet lagi..dan tak ada yang keluar.
Hampir saja ia pergi, namun seakan ada suatu rasa yang menghalanginya. Untuk kesekian kali ia kembali memencet bel, dan ia ketuk pintu dengan keras. Tak lama kemudian, pintu terbuka pelan. Ada wanita paruh baya keluar dengan raut wajah yang menyiratkan kesedihan yang dalam.
“Apa yang bisa saya bantu Nak?”
Dengan wajah ceria, senyum yang bersahabat si bocah berkata,
“maaf bu, saya cuma mau membagikan brosur sama ibu. Ini yang dititip  pak pendeta tadi siang. mohon maaf jika saya mengganggu, saya hanya ingin mengatakan, bahwa Tuhan mencintai Anda dan akan menjaga Anda, dan saya membawa brosur ini untuk mengabarkan kepada Anda bagaimana mengenal Tuhan, apa yang seharusnya dilakukan manusia dan bagaimana cara bersyukur kepada-Nya.” kata si bocah menirukan pesan dari si Pendeta. Anak itu menyerahkan brosurnya, lalu pergi, meninggalkan wanita itu.

BEBERAPA HARI KEMUDIAN…
kegiatan KKR pun berlangsung. Di akhir KKR, Pendeta mempersilahkan para jemaat untuk memberikan kesaksian soal lawatan Tuhan dalam kehidupan para Jemaat

tak lama kemudian, dibarisan belakang,  seorang wanita paruh baya maju ke depan lalu memperkenalkan namanya. kemudian ia berkata :
“Tak ada di antara hadirin ini yang mengenaliku, dan baru kali ini saya datang ke tempat ini.
beberapa hari yang lalu saya merasa belum menjadi seorg pengikut Tuhan, dan tidak pernah berfikir untuk menjadi seperti ini. Sekitar sebulan suamiku meninggal, padahal ia satu-satunya orang yang kumiliki di dunia ini.
beberapa hari yang lalu, saat udara sangat dingin dan diiringi gerimis, saya kalap, karena tak tersisa lagi harapan untuk hidup. Maka saya mengambil tali dan kursi, lalu saya membawanya ke kamar atas di rumahku.
Saya ikat satu ujung tali di kayu atap…saya berdiri di kursi…, lalu saya kalungkan ujung tali yg satunya ke leher, saya ingin bunuh diri karena kesedihanku…
Tapi, tiba-tiba terdengar olehku suara bel rumah di lantai bawah. Saya menunggu sesaat dan tdk menjawab, “paling sebentar lagi pergi”batinku.
Tapi ternyata bel berdering lagi, ditambah ketukan pintu yg makin kuat. Saya ragu, “Siapa kira-kira yang datang ini, setahuku tak ada satupun orang yang mungkin memiliki keperluan atau perhatian terhadapku.” Lalu saya lepas tali yang melingkar di leher, dan saya turun untuk melihat siapa yang mengetuk pintu.
Saat kubuka pintu, kulihat seorang bocah pemulung. Bocah yang ceria wajahnya, dengan senyuman laksana malaikat dan aku belum pernah mlihat anak seperti itu.
"saya hanya ingin mengatakan, bahwa Tuhan mencintai Anda dan akan menjaga Anda, dan saya membawa brosur ini untuk mengabarkan kepada Anda bagaimana mengenal Tuhan, apa yang seharusnya dilakukan manusia dan bagaimana cara bersyukur kepada-Nya.”Kemudian anak itu menyodorkan brosur kepadaku yang berjudul, “Mengenal Sang Penolong Sejati.”
Akupun segera menutup pintu, aku mulai membaca isi brosur. Merenung sejenak. Setelah membacanya, aku naik ke lantai atas, melepaskan ikatan tali di atap dan menyingkirkan dan saya telah mantap untuk tidak memerlukan itu lagi selamanya.
Anda tahu…sekarang ini saya benar-benar merasa sangat bahagia, karena bisa mengenal Tuhan dengan segala rencana-Nya dalam kehidupan saya. Tuhan telah mengirimkan Bocah yang tidak saya kenal sama sekali untuk menyadarkan saya.
Dan karena alamat KKR tertera di brosur itu, maka saya datang ke sini sendirian untuk mengucapkan pujian kepada Tuhan, kemudian berterimakasih kepada kalian, khususnya ‘malaikat’ kecil yang telah mendatangiku pada saat yang sangat-sangat tepat. Semoga Tuhan terus menguatkan hati saya.

Sementara sang Pendeta yang berdiri di sampingnya didepan altar, kemudian mendekatinya dan berkata dengan Sedih bercampur bahagia.
 " Tuhan telah memakai anak itu untuk menyelamatkan ibu. Namun, "malaikat kecil" itu, tak mampu bersama-sama dengan kita saat ini. Dia sudah bersama-sama dengan malaikat lain di sorga sana. sepulang dia mengantarkan brosur ke rumah ibu, bocah kecil itu meninggal karena tertabrak mobil"

seketika, mengalirlah air mati para jamaat yang hadir saat itu, pujian, doa dan penyembahan pun menggema di tiap sudut ruangan. itu. Semua bersedih, namun mereka tak pernah kenal siapa malaikat kecil itu.





Minggu, 24 April 2016

KISAH MOTIVASI "BUNGA MAWAR"

Suatu ketika, ada seseorang pemuda yang mempunyai sebuah bibit mawar. Ia ingin sekali menanam mawar itu di kebun belakang rumahnya. Pupuk dan sekop kecil telah disiapkan. Bergegas, disiapkannya pula pot kecil tempat mawar itu akan tumbuh berkembang. Dipilihnya pot yang terbaik, dan diletakkan pot itu di sudut yang cukup mendapat sinar matahari. Ia berharap, bibit ini dapat tumbuh dengan sempurna.

Disiraminya bibit mawar itu setiap hari. Dengan tekun, dirawatnya pohon itu. Tak lupa, jika ada rumput yang menganggu, segera disianginya agar terhindar dari kekurangan makanan. Beberapa waktu kemudian, mulailah tumbuh kuncup bunga itu. Kelopaknya tampak mulai merekah, walau warnanya belum terlihat sempurna. Pemuda ini pun senang, kerja kerasnya mulai membuahkan hasil. Diselidikinya bunga itu dengan hati-hati. Ia tampak heran, sebab tumbuh pula duri-duri kecil yang menutupi tangkai-tangkainya. Ia menyesalkan mengapa duri-duri tajam itu muncul bersamaan dengan merekahnya bunga yang indah ini. Tentu, duri-duri itu akan menganggu keindahan mawar-mawar miliknya.

Sang pemuda tampak bergumam dalam hati, “Mengapa dari bunga seindah ini, tumbuh banyak sekali duri yang tajam? Tentu hal ini akan menyulitkanku untuk merawatnya nanti. Setiap kali kurapihkan, selalu saja tanganku terluka. Selalu saja ada ada bagian dari kulitku yang tergores. Ah pekerjaan ini hanya membuatku sakit. Aku tak akan membiarkan tanganku berdarah karena duri-duri penganggu ini.”

Lama kelamaan, pemuda ini tampak enggan untuk memperhatikan mawar miliknya. Ia mulai tak peduli. Mawar itu tak pernah disirami lagi setiap pagi dan petang. Dibiarkannya rumput-rumput yang menganggu pertumbuhan mawar itu. Kelopaknya yang dahulu mulai merekah, kini tampak merona sayu. Daun-daun yang tumbuh di setiap tangkai pun mulai jatuh satu-persatu. Akhirnya, sebelum berkembang dengan sempurna, bunga itu pun meranggas dan layu.

Jiwa manusia, adalah juga seperti kisah tadi. Di dalam setiap jiwa, selalu ada ‘mawar’ yang tertanam. Tuhan yang menitipkannya kepada kita untuk dirawat. Tuhan lah yang meletakkan kemuliaan itu di setiap kalbu kita. Layaknya taman-taman berbunga, sesungguhnya di dalam jiwa kita, juga ada tunas mawar dan duri yang akan merekah.

Namun sayang, banyak dari kita yang hanya melihat “duri” yang tumbuh. Banyak dari kita yang hanya melihat sisi buruk dari kita yang akan berkembang. Kita sering menolak keberadaan kita sendiri. Kita kerap kecewa dengan diri kita dan tak mau menerimanya. Kita berpikir bahwa hanya hal-hal yang melukai yang akan tumbuh dari kita. Kita menolak untuk menyirami” hal-hal baik yang sebenarnya telah ada. Dan akhirnya, kita kembali kecewa, kita tak pernah memahami potensi yang kita miliki

Banyak orang yang tak menyangka, mereka juga sebenarnya memiliki mawar yang indah di dalam jiwa. Banyak orang yang tak menyadari, adanya mawar itu. Kita, kerap disibukkan dengan duri-duri kelemahan diri dan onak-onak kepesimisan dalam hati ini. Orang lain lah yang kadang harus menunjukannya.

Jika kita bisa menemukan “mawar-mawar” indah yang tumbuh dalam jiwa itu, kita akan dapat mengabaikan duri-duri yang muncul. Kita, akan terpacu untuk membuatnya akan membuatnya merekah, dan terus merekah hingga berpuluh-puluh tunas baru akan muncul. Pada setiap tunas itu, akan berbuah tunas-tunas kebahagiaan, ketenangan, kedamaian, yang akan memenuhi taman-taman jiwa kita. Kenikmatan yang terindah adalah saat kita berhasil untuk menunjukkan diri kita tentang mawar-mawar itu, dan mengabaikan duri-duri yang muncul.

Semerbak harumnya akan menghiasi hari-hari kita. Aroma keindahan yang ditawarkannya, adalah layaknya ketenangan air telaga yang menenangkan keruwetan hati. Mari, kita temukan “mawar-mawar” ketenangan, kebahagiaan, kedamaian itu dalam jiwa-jiwa kita. Mungkin, ya, mungkin, kita akan juga berjumpa dengan onak dan duri, tapi janganlah itu membuat kita berputus asa. Mungkin, tangan-tangan kita akan tergores dan terluka, tapi janganlah itu membuat kita bersedih nestapa.

Biarkan mawar-mawar indah itu merekah dalam hatimu. Biarkan kelopaknya memancarkan cahaya kemuliaan-Nya. Biarkan tangkai-tangkainya memegang teguh harapan dan impianmu. Biarkan putik-putik yang dikandungnya menjadi bibit dan benih kebahagiaan baru bagimu. Sebarkan tunas-tunas itu kepada setiap orang yang kita temui, dan biarkan mereka juga menemukan keindahan mawar-mawar lain dalam jiwa mereka. Sampaikan salam-salam itu, agar kita dapat menuai bibit-bibit mawar cinta itu kepada setiap orang, dan menumbuh-kembangkannya di dalam taman-taman hati kita.

Sumber : http://lifeblogid.com


Sabtu, 23 April 2016

Dalam Keadaan Apapun BERUSAHALAH UNTUK TIDAK SOMBONG

Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, benih-benihnya kerap muncul tanpa kita sadari.

Di tingkat pertama,
Sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.

Di tingkat kedua,
Sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain.

Di tingkat ketiga,
Sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.

Yang menarik,
Semakin tinggi tingkat kesombongan,
Semakin sulit pula kita mendeteksinya.
Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.

Cobalah setiap hari, kita memeriksa batin kita, pikiran kita.
Kita ini manusia hanya seperti debu, yang suatu saat akan hilang dan lenyap, meninggal.

Kesombongan hanya akan membawa kita pada kejatuhan yang dalam. Mari berlatih untuk menghindari segala bentuk kesombongan.

Kisah Nyata Sangat Mengharukan: PRAMUGARI CANTIK DAN KAKEK TUA

Dimata sang pencipta manusia diciptakan dalam keadaan yang sama. Tidak ada hal apapun yang dapat membedakan derajat manusia dimatanya kecuali kebaikan dan amal ibadah yang dilakukan semata-mata untuknya. Namun. terkadang di dunia ini manusia kerap kali selalu membeda-bedakan sesamanya. Fisik, tahta dan kekayaan selalu saja menjadi pembeda dalam kehidupan di duniawi. Tetapi tidak semua orang memiliki sifat seperti itu, ada diantaranya beberapa orang yang masih memiliki hati nurani dan tidak memandang orang dari segimanapun. Seperti halnya pramugari cantik yang bekerja dari China Airline.
Nah, di bawah ini merupakan kisah dari pramugari cantik dan kakek tua. Kisah di bawah ini kami kutip dari curahan hati sang pramugari.

Awal Kisah Insfiratif Pramugari

Disebuah maskapai penerbangan yaitu di China Airline ada seorang wanita yang bekerja menjadi salah satu pramugari. Wanita tersebut menganggap bahwa hidupnya biasa-biasa saja. Selama bekerja di maskapai tersebut pun ia mengaku bahwa ia tidak pernah memiliki pengalaman yang mengesankan. Setiap harinya ia hanya melayani penumpang serta melakukan pekerjaan yang monoton.
Ketika pada bulan juni yang lalu tepatnya pada tanggal 17 juni, ia menjumpai sebuah pengalaman yang mungkin tidak akan bisa ia lupakan selamanya. Pengalaman tersebut bahkan bisa membuat perubahan dalam setiap memandang hidup dan pekerjaan yang ia miliki. Pada saat itu ia mendapatkan jadwal penerbangan dari Shanghai menuju ke Peking. Ketika itu penumpang di pesawat sangatlah penuh. Diantara beberapa penumpang pramugari cantik tersebut meilihat seorang kakek yang merangkul karung tua, ia meyakini bahwa kakek tersebut berasal dari desa karena terlihat jelas dari gaya kakek tersebut. Ketika itu ia berdiri di depan pintu pesawat untuk menyambut para penumpang. Ketika melihat kakek tersebut kesan pertama yang ada dipikirannya yaitu, zaman modern seperti ini sungguh sangat sudah maju, seseorang dari desa pun kini sudah bisa membeli tiket pesawat yang tentunya dengan harga tidak murah.
Nah, ketika pesawat mulai terbang, beberapa pramugari yang ada di pesawat mulai menyajikan minuman. Ketika itu, pramugari cantik tersebut melewati baris 20, ia kemudian melihat kembali kakek tua tersebut. Ia melihat kakek tua duduk dengan tegak dan kaku seperti patung ditempat duduknya dengan terus memeluk karung yang di bawanya. Ketika itu, ia menanyakan kepada kakek tua “mau minum apa?”, kemudian dengan terkejut kakek tua tersebut melambaikan tangannya tanda menolak. Kemudian ia pun menawarkan untuk membantu menyimpankan karung tua yang di bawa oleh kakek, namun kakek tersebut menolaknya. Setelah itu ia pun membiarkan si kakek duduk dengan tenang.

Melayani Penumpang Tanpa Membeda-Bedakan

Ketika menjelang pembagian makanan, ia masih melihat kakek tua duduk dengan tegak dan kaku. Kemudian ia menawarkan makanan kepada kakek tersebut namun tetap saja ditolaknya. Melihat keadaan seperti itu kemudian ia melaporkannya kepada kepala pramugari. Dengan akrab kemudian kepala pramugari bertanya kepada kakek “apakah anda sakit?”, dengan suara rendah kakek tua menjawab bahwa dirinya ingin ke toilet, tetapi ia takut bahwa dipesawat tidak diperbolehkan untuk bergerak bebas karena ia takut akan merusak barang yang ada di dalam pesawat ini. Ketua pramugari kemudian menjelaskan kepada kakek tersebut bahwa dirinya boleh bergerak sesuka hatinya, setelah itu menyuruh seorang pramugara untuk mengantarnya ke toilet.
Ketika para pramugari menyajikan minuman yang ke dua kalinya, pramugari tersebut melihat kakek tua itu melirik kepada penumpang disebelahnya dan kemudian menelan ludah. Dengan tidak menanyakan apakah si kakek ingin minum atau tidak ia langsung saja menyimpan segelas teh dimejanya. Ternyata tindakannya mengejutkan kakek tua, dengan spontan kakek mengatakan “tidak usah, tidak usah”, lalu pramugari tersebut mengatakan bahwa kakek sudah haus kemudian menyuruhnya untuk segera meminum minuman yang ia sajikan tersebut.
Pada saat itu dengan spontan kakek tua mengeluarkan uang logam dalam kantong bajunya lalu disodorkan kepada pramugari tersebut. Kemudian pramugari itu menjelaskan kepada kakek bahwa minuman yang disajikannya gratis. Ketika diberitahu seperti itu kakek tidak mempercayainya, dan kakek bercerita kepada pramugari tersebut bahwa ketika dirinya dalam perjalanan menuju ke bandara, ia merasa kehausan dan meminta minum kepada penjual makanan dipinggir jalan, namun pada saat itu para penjul dipinggir jalan menolaknya dan mengusirnya karena menganggap bahwa dirinya adalah seorang pengemis. Dan pada saat itu juga pramugari itu mengetahui bahwa demi menghemat biaya perjalanan dari desa, kakek tua tersebut rela jalan jauh dari desa dan naik mobil setelah dekat bandara karena pada saat itu uang yang dibawanya sangat sedikit.
Setelah pramugari itu membujuk kakek tua yang terakhir kalinya kemudian baru kakek mempercayainya dan duduk dengan tenang  sambil meminum teh yang telah diberikan oleh pramugari tersebut. Setelah itu pramugari tersebut menawarkan makanan kepada kakek tua namun si kakek menolaknya. Ketika itu kakek tua tersebut bercerita kepada pramugari bahwa dirinya memiliki dua orang anak yang sangat baik, putra sulungnya sudah bekerja sedangkan putra bungsunya masih kuliah tingkat 3 di Peking. Anak sulungnya yang bekerja dikota menjemput dirinya bersama istrinya untuk tinggal bersama dikota, namun kakek menolaknya dengan alasan  tidak biasa tinggal dikota dan akhirnya kembali lagi ke desa. Dan kini kakek tua tersebut hendak pergi ke Peking untuk menjenguk anak bungsunya yang kuliah disana. Anak sulung kakek tersebut tidak tega membiarkan ayahnya naik mobil begitu jauh sehingga membelikan tiket pesawat dan menawarkan untuk menemani ayahnya ketika akan pergi ke Peking, namun si kakek menolaknya karena menganggap terlalu boros dan kakek bersih keras untuk pergi sendiri.
Nah, ketika melewati pemerikasaan dibandara kakek tua  disuruh untuk menitipkan barangnya tersebut dibagasi namun kakek tetap bersih keras ingin membawanya sendiri, ia berkata bahwa jika karung yang berisi ubi tersebut disimpan di dalam bagasi maka ubi akan menjadi hancur dan anaknya tidak menyukai ubi yang sudah hancur. Akhirnya pramugari itu membujuknya untuk meletakan karung yang dibawa kakek di atas bagasi tempat duduk, dan akhirnya kakek bersedia dengan hati-hati ia meletakan karung tersebut.

Kisah yang Paling Insfiratif dan Mengharukan

Ketika dalam penerbangan pramugari itu terus menambahkan minum untuk kakek tua tersebut, kakek tua selalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus, tetapi ia tidak mau makan meskipun pramugari itu sudah mengetahui bahwa kakek tua sudah sangat lapar. Saat pesawat akan segera mendarat kemudian dengan suara kecil kakek tua menanyakan "apakah ada kantong kecil?" kakek tua meminta kepada pramugari itu untuk meletakan makanannya dikantong tersebut. Kakek tua mengatakan kepada pramugari bahwa ia belum pernah sama sekali melihat makanan yang enak sepertu itu dan ia ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya, melihat tindakan si kakek kemudian pramugari tersebut sangat kaget.
Pramugari tersebut kemudian berfikir bahwa makanan biasa-biasa saja yang setiap harinya ia lihat bisa menjadi sangat berharga dimata seorang kakek tua dari desa dan dengan menahan rasa lapar yang mungkin kakek tua rasakan dari tadi ia rela menyisihkan untuk anaknya. Kemudian dengan terharu pramugari tersebut mengumpulkan semua makanan yang masih tersisa yang belum dibagikan kepada para penumpang lalu disimpan dikantong yang akan diberikan kepada kakek tua. Namun diluar dugaan kakek tersebut menolaknya, ia hanya menghendaki bagiannya saja yang belum dimakan dan tidak menghendaki makanan yang bukan miliknya. Perbuatan kakek yang tulus tersebut membuat pramugari itu sangat terharu dan ia menganggap bahwa perbuatan kakek tersebut merupakan pelajaran yang berharga untuknya.
Setelah pramugari itu memberikan sekantong makanan kepada kakek tua tersebut kemudian ia menganggap bahwa semuanya sudah berlalu. Namun siapa menduga ketika semua penumpang turun dari  pesawat, kakek tua tersebut merupakan orang  terakhir yang berada di dalam pesawat. Pramugari itu kemudian membantu si kakek untuk keluar dari pintu pesawat, sebelum keluar kakek tua tersebut melakukan sesuatu hal yang tidak bisa dilupakan oleh pramugari itu dimana kakek tua tersebut berlutut menyembahnya dan mengucapkan terima kasih yang bertubi-tubi. Kakek mengatakan bahwa para pramugari yang bertugas pada saat itu merupakan orang yang paling baik yang pernah ia jumpai dan kakek mengaku bahwa  dirinya hanya makan sekali dan tidak pernah meminum minuman yang sangat manis serta memakan makanan yang sangat enak. "Pada hari ini kalian semua tidak menganggap hina terhadap saya, kalian melayani saya dengan begitu baik, saya tidak tahu bagaimana caranya mengucapkan terimakasih kepada kalian, semoga tuhan membalas semua kebaikan kalian” ucap kakek tersebut sambil menyembah dan menangis. Pramugari itu dan teman-temannya dengan terharu memapah kakek tua tersebut dan menyuruh seorang anggota lapangan untuk membantu kakek keluar dari lapangan terbang.
Nah, sahabat janganlah kalian semua memandang seseorang dari penampilan luar. Hargailah semua orang dan syukuri apa yang telah dimiliki.


NAH INI LAGI ...


Jumat, 22 April 2016

LAGI DP BBM ONO NIHA SEMOGA BERMANFAAT